Perbedaan Emosi Laki-laki dan Perempuan

Perbedaan Emosi Laki-laki dan Perempuan

Perbedaan Emosi Laki-laki dan Perempuan

Perbedaan Emosi Laki-laki dan Perempuan – Neurosains merupakan bidang ilmu yang mengkhususkan pada studi saintifik dari sistem saraf atau sistem neuron. Mempelajari ilmu ini dapat mengubah mindset manusia untuk berpikir secara ilmiah. Memahami karakter masing-masing individu juga dapat dipelajari dengan neurosains.

Bagaimana cara pandang laki-laki dan perempuan terhadap suatu hal, perbedaan orientasi pemikiran laki-laki dan perempuan serta perbedaan emosi laki-laki dan perempuan juga dapat di pahami melalui neurosains.

1. Pancaran emosi pada pria dan wanita berbeda

Dalam penelitian Sharlene D. Newman yang berjudul Differences in Cognitive Ability and Apparent Sex Differences in Corpus Callosum Size, Corpus Collosum (sel saraf yang menghubungkan otak kiri dan kanan) pada perempuan lebih tebal daripada laki-laki.

Hal ini yang menyebabkan emosi mengaktifkan kedua belahan otak perempuan, walaupun saat sedih, wanita tetap bisa bekerja. Perempuan juga dapat melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu

Pada laki-laki, Corpus Collosum lebih tipis, sehingga antara sel neuron sebelah kiri dan kanan itu bekerja sendiri-sendiri. Saat emosi, otak yang aktif adalah otak kanan (otak kreativitas), sehingga saat emosi yang terganggu hanya kreativitasnya saja, sementara menghitung, menganalisa dan berbicara tidak terganggu. Oleh sebab itu, laki-laki masih bisa mengambil keputusan saat emosi.

2. Emosi berdasarkan otot wajah

Berdasarkan otot wajahnya, perempuan merespon sedih, marah, dan gembira sekitar 2,5 detik. Itu artinya saat perempuan sedih, mereka akan membuat mimik wajah sedih setelah 2,5 detik merasakannya. Berdasarkan Mc Duff, Kodra, Kaliouby, dan Lafrance, perempuan lebih banyak tersenyum daripada laki-laki, dan hormon pada wanita membuat ekspresi wajah berlanjut untuk mencerminkan emosi dan terkadang tanpa sengaja membesar-besarkan ekspresi tersebut.

Sebenarnya respon emosi laki-laki berdasarkan otot wajahnya lebih cepat dibandingkan perempuan. Laki-laki merespon 1,5 detik setelah merasakan emosi, namun karena hormon testosteron pada laki-laki yang sejak kecil melatih diri mereka untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya, sehingga wajah laki-laki cenderung datar karena otot wajahnya dikuasai hormon testosteron. Namun jika ada laki-laki yang berekspresi berlebihan, berarti ia termasuk dalam 8% populasi pria yang mempunyai kebanyakan hormon esterogen.

Hal ini didukung oleh penelitian Yaling Deng, etc, yang berjudul “Gender Differences in Emotional Response: Inconsistenc Between Experience and Expressivity”, dimana laki-laki memiliki pengalaman emosional yang lebih kuat, sedangkan perempuan memiliki ekspresivitas emosional yang lebih kuat.

3. Aktivitas elektrik otak saat istirahat

Dalam keadaan istirahat, 90 persen elektrik pada otak perempuan masih hidup. Ini menyebabkan perempuan lebih sering bermimpi dibandingkan laki-laki, kejadian yang dialami perempuan dalam satu hari cenderung akan masuk dalam mimpinya. Perempuan lebih mudah penat karena dalam istirahat pun otak perempuan tetap bekerja dan akan gampang bangun saat tertidur pulas sekali pun.

Saat istirahat, 70 persen aktivitas elektrik laki-laki mati, laki-laki jarang bermimpi dan akan sulit dibangunkan ketika tertidur pulas.

4. Mekanisme berbahasa

Menurut Dokter Aisyah Dahlan, perempuan umumnya berkomunikasi 20.000 kata dalam sehari sedangkan laki-laki hanya 7.000 kata per harinya. Namun demikian, tetap ada perempuan yang pendiam, berbeda pada umumnya, perempuan yang pendiam pun berkomunikasi sekitar 17.000 kata per harinya.

Mekanisme berbahasa perempuan menggunakan otak kiri dan otak kanan karena itu perempuan lebih pandai berbicara dan mampu terus-menerus bekerja sambil berbicara. Bagian otak perempuan lebih tebal di bagian korteks celebri kiri di mana bagian ini cenderung menganalisa, detail, hitung-hitungan, dan teratur.

Sementara pada laki-laki, mekanisme berbahasanya menggunakan otak kiri dan memiliki bagian korteks celebri kanan yang lebih tebal, di mana otak kanan adalah otak kreativitas yang berhubungan dengan musik, sport, game, imajinasi, intuisi, benda, warna, mungkin karena itulah laki-laki lebih jago teknologi dan cepat rileks.

5. Pengaruh usia terhadap emosi

Pengaruh usia terhadap emosi menurut Dokter Aisyah Dahlan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Memasuki usia 55 tahun, laki-laki mulai lebih lembut dan mesra serta suka mengajar ilmu pengetahuan serta motorik terhadap orang lain. Laki-laki dapat mengontrol emosi dengan lebih baik. Secara hormonal, hormon yang menjalankan sirkuit otak laki-laki berubah dan lebih banyak menggunakan esterogen dan oksitosin di usia ini. Hormon testosteron dan vasopresin mulai berkurang.

Perempuan mengalami tiga fase untuk mencapai emosi yang stabil di dalam hidupnya. Fase pertama premenopause (usia 45-50 tahun). Di saat usia ini hormon esterogen, progesteron dan testosteron pada perempuan tidak menentu. Suasana hati sering berubah-ubah, cemas dan cepat letih. Hasrat seksual pada perempuan tidak menentu, berbeda dengan laki-laki yang berkeinginan berganti pasangan karena sudah mapan, pada perempuan keinginan berganti pasangan pada usia ini dipengaruhi hormon yang tidak menentu.

Fase selanjutnya yaitu menopause (usia 55-58 tahun), pada usia ini hormon masih tidak menentu, namun minat utama pada perempuan beralih pada kesehatan, meningkatkan kesejahteraan dan tantangan baru. Pada usia 59 tahun, perempuan memasuki fase pasca menopause, hormon esterogen dan testosteronnya suda rendah, lebih banyak merasakan ketenangan, gairah hidup baru, dan hasrat seksual yang segar kembali.

Di fase ini, minta utama perempuan beralih pada keinginan melakukan apa yang ingin ia lakukan dan tidak berminat mengurus orang lain lagi.

SpaceX Torehkan Sejarah, Crew Dragon Sukses ke Stasiun Antariksa Internasional

SpaceX Torehkan Sejarah, Crew Dragon Sukses ke Stasiun Antariksa Internasional

SpaceX Torehkan Sejarah, Crew Dragon Sukses ke Stasiun Antariksa Internasional

SpaceX Torehkan Sejarah, Crew Dragon Sukses ke Stasiun Antariksa Internasional,- SpaceX menyelesaikan bagian pertama dari penerbangan berawak yang bersejarah ke Stasiun Antariksa Internasional (International Space Station/ISS) pada Minggu 31 Mei pagi. Wahana antariksa Crew Dragon milik SpaceX berhasil melakukan penambatan atau docking dengan laboratorium yang mengorbit tersebut.

Menjadi yang pertama untuk wahana antariksa komersial, Crew Dragon melakukan docking dengan ISS pada pukul 10.16 Waktu Timur AS atau pukul 21.16 WIB, beberapa menit lebih awal dari yang direncanakan, membawa astronaut Bob Behnken dan Doug Hurley.

Kedua astronaut tersebut memasuki ISS pada pukul 13.22 Waktu Timur AS atau Senin (1/6/2020) pukul 00.22 WIB, setelah palka dibuka.

Proses docking adalah bagian yang sulit dan berbahaya dari misi itu. Wahana antariksa tersebut melakukan serangkaian manuver bertahap untuk memosisikan diri dalam proses pertemuan atau rendezvous dan docking dengan ISS.

Dua astronaut yang berada di wahana tersebut bekerja dengan kontrol misi SpaceX untuk memverifikasi bahwa wahana antariksa itu beroperasi sebagaimana mestinya dengan menguji sistem kontrol lingkungan, sistem layar dan kontrol, serta manuver pendorong, dan lainnya.

“Ini merupakan suatu kehormatan nyata untuk menjadi bagian kecil dari usaha keras selama sembilan tahun ini sejak kali terakhir pesawat antariksa Amerika Serikat (AS) merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS),” kata Hurley setelah proses docking rampung.

“Kami harus memberi selamat kepada semua orang di SpaceX, di Hawthorne McGregor dan di Kennedy Space Center. Upaya luar biasa mereka selama beberapa tahun terakhir untuk membuat ini terwujud sangatlah besar,” tambah sang astronaut.

Misi tersebut berjalan dengan lancar, kata para pejabat di Bumi.

Menorehkan Sejarah

Sebelum membuka palka dan masuk ke ISS, Behnken dan Hurley melakukan serangkaian pemeriksaan tekanan dan kebocoran guna memastikan keselamatan mereka. Lubang palka dibuka pada pukul 13.02 Waktu Timur AS atau pukul 24.02 WIB.

“Mereka berhasil. Setelah meluncur dari @NASAKennedy dengan wahana antariksa @SpaceX Dragon Endeavour kemarin, @AstroBehnken dan @Astro_Doug secara resmi bergabung dengan kru @Space_Station pada hari ini pukul 13.02 Waktu Timur AS – membuat sejarah.” cuit NASA.

Kedua astronaut memasuki ISS pada 13.22 Waktu Timur AS. Mereka bergabung dengan rekan astronaut NASA Chris Cassidy dan dua kosmonaut Rusia di ISS, menjadi anggota kru Ekspedisi 63.

Behnken dan Hurley akan melakukan tes pada wahana antariksa Crew Dragon termasuk melakukan penelitian dan tugas-tugas lain dengan kru ISS.

Mereka sukses melakukan docking setelah para astronaut menghabiskan sekitar 19 jam di dalam wahana antariksa Crew Dragon yang mengorbit Bumi, setelah peluncuran pada Sabtu 30 Mei.

Uji Terbang Terakhir SpaceX

Pesawat SpaceX Butuh 19 Jam Kirim Astronot AS ke Stasiun Luar Angkasa

Wahana antariksa Crew Dragon lepas landas menggunakan roket SpaceX Falcon 9 pada Sabtu 30 Mei dari Kompleks Peluncuran 39A yang bersejarah di Kennedy Space Center di Florida.

Peluncuran tersebut menandai kali pertama peluncuran astronaut Amerika dari roket Amerika di tanah Amerika ke ISS sejak 2011. Ini juga kali pertama dalam sejarah, para astronaut NASA meluncur dengan wahana antariksa yang dibuat dan dioperasikan secara komersial ke orbit oleh para kru Amerika.

Setelah mencapai orbit, Behnken dan Hurley mengumumkan bahwa mereka menamai kapsul mereka Endeavour.

Ini merupakan uji terbang terakhir SpaceX untuk Program Kru Komersial NASA dan akan memberikan data penting tentang kinerja roket Falcon 9, wahana antariksa Crew Dragon, dan sistem darat, serta operasi di dalam orbit, docking, dan pendaratan.

Durasi misi tersebut belum diumumkan. NASA mengatakan bahwa hal tersebut akan ditentukan berdasarkan kesiapan peluncuran awak komersial berikutnya.

Planetarium dan Observatorium Jakarta Sudah Setengah Abad

Planetarium dan Observatorium Jakarta Sudah Setengah Abad

Planetarium dan Observatorium Jakarta Sudah Setengah Abad,- Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam penyelidikan ilmiah dunia astronomi. Bermula dari pendirian observatorium Mohr di Batavia sebagai observatorium pertama di Hindia Timur pada pertengahan abad ke-18 sampai kepada kegiatan observatorium Bosscha pada 1923.

Sukarno mengetahui jejak sejarah tersebut dan berpikir untuk terus mengembangkan tradisi pengetahuan astronomi di Indonesia. Caranya Daftar sabung ayam s128 dengan popularisasi sains antariksa kepada masyarakat melalui pembangunan Planetarium Jakarta pada awal dekade 1960-an. Di dalamnya termasuk juga sebuah observatorium baru untuk para peneliti astronomi.

“Harapan Bung Karno mendirikan Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah ingin menjadikan Indonesia unggul dalam bidang sains dan teknologi,” kata Darsa Sukartadiredja, Kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta periode 1977–2001, dalam Sarasehan 50 Tahun Planetarium dan Observatorium Jakarta di Cikini, Jakarta, 27 April 2019.

Sukarno menyadari bahwa bangsa Indonesia dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain melalui pengembangan sains. Masa itu astronomi menjadi cabang sains paling menonjol sebagai penanda peradaban sebuah bangsa.

Tanpa Master Plan
Pencanangan pembangunan Planetarium dan Observatorium berlangsung pada 9 September 1964. Pembangunannya, sebut Darsa, tanpa master plan lengkap. Ide Sukarno disambut oleh pihak-pihak yang merasa mampu membangun Planetarium dan Observatorium. Maket pun dibuat. Pembangunannya berdasarkan maket itu.

“Jadi dari gagasan Bung Karno, dan kemudian ada yang bersedia membiayainya, ada yang bisa mengerjakannya, ada insinyur-insinyur yang bisa mewujudkannya, maka jadilah,” terang Darsa.

BACA JUGA: Planetarium Ambisi Sukarno Menguak Rahasia Angkasa

Perkiraan biaya pembangunan Planetarium dan Observatorium Jakarta sebesar Rp3,2 miliar, termasuk US$1,5 juta atau setara Rp1,8 miliar untuk pembelian peralatan proyektor lensa merek Zeiss dari perusahaan Carl Zeiss AG dan peralatan penunjang lainnya dari Jerman Timur. Nilai dolar Amerika saat itu sekira Rp1.205.

Semula biaya pembangunan akan menjadi beban lembaga-lembaga tinggi negara. “Tapi ada tambahan juga dari buku yang saya tahu, bahwa yang membangun ini sebenarnya adalah juga usaha-usaha yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), peran swasta,” ungkap Darsa.

Gubernur DKI Jakarta Henk Ngantung menjadi penanggung jawab utama seluruh pembangunan. Henk memberikan mandat kepada dua perusahaan negara bidang konstruksi, Hutama Karya dan India Karya, sebagai kontraktornya. Prof. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo bertugas sebagai pengawas proyek.

Dana terbesar pembangunan berasal dari GKBI, lembaga tempat bernaung para pengusaha batik di Indonesia. Tapi pembangunan Planetarium dan Observatorium Jakarta kandas pada 1965.

Berkaitan dengan rentetan peristiwa G30S, GKBI kehabisan dana. Mereka tidak mampu lagi mendanai pembangunan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Pemerintah Jakarta mengambil alih tanggung jawab pembangunan tersebut pada 1966–1968.

Gubernur Ali Sadikin menunjuk Santoso Nitisastro, seorang staf Observatorium Bosscha, sebagai pemimpin pembangunan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Dia memperoleh bantuan dari seorang teknisi senior bernama Kodrat Iman Satoto.

BACA JUGA: Perjalanan Dinas Menyedihkan Demi Planetarium

Keduanya bekerja keras memasang seluruh peralatan Planetarium dan Observatorium. Kebutuhan elektrik dan mekaniknya selesai pada 1968. Ali Sadikin kemudian meresmikan Planetarium pada 10 November 1968. Tapi tidak ada kegiatan untuk publik beberapa waktu setelahnya.

“Waktu diresmikan 10 November 1968, pintu masih terbuka, membawa masuk sinar dari luar, juga air ketika hujan. Orang keluar masuk dalam keadaan pintu yang terbuka. Saat itu Planetarium dan Observatorium Jakarta belum layak beroperasi,” kata Darsa.

Selama rentang November 1968–Maret 1969, Santoso dan kawan-kawan menyusun staf kerja untuk mengelola Planetarium dan merunut daftar kebutuhan penunjang kegiatannya.

Semua kerja keras berbuah manis. Planetarium berhasil menggelar pertunjukan teater bintang pertama untuk khalayak pada 1 Maret 1969. Pengurus Planetarium Jakarta menetapkan kala ini sebagai hari jadi Planetarium dan Observatorium Jakarta. Indonesia akhirnya mempunyai Planetarium pertama. Tapi pengurus memandang Planetarium belum sepenuhnya lengkap.

“Itu baru gedung berkubah saja, dengan diameter kubah sekitar 25 meter, dengan tinggi hampir 30 meter. Jauh dari bentuk maket awal,” kata Darsa.

Pengurus mengupayakan bangunan tambahan untuk Planetarium. Misanya kantor pengurus, perpustakaan, ruang kelas, dan ruang multimedia. Mereka mengajukan usulan tersebut kepada pemerintah daerah.

“Penambahan fasilitas tersebut agak lama karena pemerintah daerah sedang membangun gedung Arsip Jayakarta pada kompleks dan saat yang sama. Bahan bangunan gedung arsip tersebut mengambil bahan-bahan untuk penambahan fasilitas pelengkap Planetarium,” kata Darsa.

Planetarium perlahan memiliki bangunan tambahan pada awal 1980-an dan terus begitu hingga 1990-an. Planetarium pun tampak memiliki persamaan dengan maket awal pada masa 1960-an.

Dekat Masyarakat
Darsa mengenang kehadiran Planetarium tidak langsung menarik perhatian khalayak. Pengurus harus memperkenalkan planetarium kepada khalayak melalui bermacam cara. Dari mencetak stensilan, poster, dan sablon sampai mengedarkan surat-surat ke sekolah. Semua biaya keluar dari kocek pengurus sendiri alias probono.

Hasilnya kelihatan pada 1975 sampai 1980-an awal. Jumlah pengunjung Planetarium menyentuh angka 30.000 hingga 40.000 per tahun. Kemudian secara bertahap meningkat lebih dari tujuh kali lipatnya pada dekade 1980-an. Kebanyakan pengunjung berasal dari kalangan pelajar sekolah dasar.

Hamdan Pabeangi, salah satu peserta sarasehan berusia 50 tahun, bercerita kepada Historia tentang pengalamannya kali pertama mengunjungi Planetarium pada 1977. Dia pelajar sekolah dasar saat itu. Dia ingat sebuah manekin berpakaian astronot di dalam etalase, di depan pintu masuk Planetarium Jakarta. Manekin itu sampai sekarang masih ada.

Hamdan terpukau dengan pertunjukan bintang-bintang buatan Planetarium. Menurutnya, “Sebuah pengalaman berbeda dari melihat bintang pada langit malam Jakarta ketika itu.” Dia juga beroleh inspirasi dari Planetarium untuk menyenangi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam hingga menginjak pendidikan menengah pertama.

BACA JUGA: Tim Astronom yang Dipimpin Orang Indonesia Menemukan Planet Baru

Syifaunsyah, peserta lain sarasehan, menyatakan kesan serupa saat kali pertama menyambangi Planetarium Jakarta pada awal 1990-an. “Dari sana saya tahu bahwa Andromeda itu ternyata nama galaksi, bukan nama tokoh jagoan dalam film anime (kartun Jepang) Saint Seiya,” kata Syifaunsyah kepada Historia.

Seiring penambahan jumlah pengunjung dan keterkenalan Planetarium Jakarta, alat-alat Planetarium bekerja lebih keras. Umur produktifnya pun berkurang. Dan muncul sejumlah masalah teknis. Pengurus mengajukan permintaan pembelian peralatan baru kepada Gubernur Jakarta Surjadi Soedirdja pada 1992 demi memastikan peran planetarium di masyarakat tetap terjaga.

Avivah Yamani Riyadi, salah seorang pembicara sarasehan sekaligus jurnalis langitselatan.com, menyebut Planetarium Jakarta sebagai jembatan para saintis ilmu astronomi menuju masyarakat.

“Jika ada orang yang menyukai ruang angkasa, akan tetapi tidak mengerti soal ilmu astronomi sebagai ilmu eksak, apakah dia bisa memahami astronomi? Tentu saja bisa. Di sinilah peran Planetarium menjembatani ilmuwan dengan masyarakat, untuk memperkenalkan sains kepada semua orang,” sebut Avivah.

Avivah menyatakan bahwa peran tersebut akan tetap relevan meski sekarang masyarakat bisa mengakses pengetahuan astronomi secara lebih luas melalui internet. “Tetapi tidak semua orang bisa memiliki kemampuan untuk menyaring berita yang benar,” kata Avivah.

Peneliti astronomi di Observatorium Jakarta masih memiliki otoritas untuk menghadirkan pengetahuan dan berita yang benar tentang astronomi. Mereka bisa mengemas berita dan pengetahuan itu dalam Planetarium. Karena itu Planetarium harus terus mendekat kepada masyarakat demi menghindarkan masyarakat dari berita dan pengetahuan tentang astronomi yang tidak benar.