Pencegahan HIV/AIDS Wajib Anda Ketahui – Setiap orang dapat melakukan pencegahan HIV dengan cara melakukan hubungan seksual yang aman. Selain itu tidak menggunakan jarum suntik sembarangan, dll juga dapat mencegah penularan HIV/AIDS.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah infeksi yang menyebabkan gangguan sistem imun tubuh serius sehingga sel-sel alami tubuh tidak mampu melawan infeksi dan penyakit. Infeksi HIV ini akan menyebabkan AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) yaitu kondisi kronis yang sangat mengancam jiwa.

Dilihat juga : 6 Penyebab Badan Menjadi Gemuk

HIV/AIDS adalah infeksi menular seksual (IMS) yang melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Hingga saat ini, belum ada obat-obatan khusus untuk mengatasi HIV/AIDS. Beberapa obat HIV/AIDS hanya dapat mengurangi gejala dan memelihara kesehatan penderitanya.

Cara Penularan HIV/AIDS

HIV adalah infeksi yang ditularkan dari hubungan seksual tanpa proteksi. Virus ini menyebar dari orang ke orang melalui paparan cairan tubuh langsung dengan orang yang positif HIV, seperti:

  • Darah
  • Air mani
  • Cairan ASI
  • Cairan rektal
  • Cairan vagina
  • Cairan pra-seminal atau cairan pra-ejakulasi

Cara penularan HIV/AIDS yang paling umum, yaitu:

  • Berhubungan seks tanpa kondom atau obat HIV dengan penderita HIV, termasuk seks anal atau vaginal.
  • Berbagi alat suntik dengan penderita HIV.
  • Penularan HIV dari wanita hamil ke anaknya selama kehamilan.

HIV dapat menular bila salah satu bentuk cairan tubuh penderita HIV tersebut masuk ke tubuh Anda, misalnya dalam berhubungan seksual. HIV tidak menular hanya dari kontak fisik biasa seperti berjabat tangan, berpelukan, atau aktivitas biasa lainnya.

Pencegahan HIV/AIDS Wajib Anda Ketahui

Belum ada obat atau vaksin HIV saat ini sehingga infeksi ini menjadi sangat berbahaya. Walaupun demikian, Anda dapat melindungi diri Anda dan orang lain dengan cara pencegahan HIV/AIDS berikut ini:

1. Ketahui Pasangan Anda

Ketahui dengan siapa Anda akan melakukan hubungan seksual. Pastikan bahwa semua pihak aman dan bersih dari risiko penyakit menular seksual. Selain itu, disarankan untuk tidak memiliki banyak pasangan seksual untuk mengurangi risiko paparan HIV atau infeksi menular seksual lainnya

2. Gunakan Jarum Suntik Steril

Apabila Anda memiliki kebutuhan untuk menggunakan jarum suntik atau infus, gunakan jarum yang baru, bersih, dan steril. Termasuk penggunaan jarum untuk tato atau tindik. Jarum suntik bekas atau tidak steril berisiko menularkan virus dari penggunaan pada orang sebelumnya.

3. Gunakan KondomSetiap kali Anda melakukan seks

Gunakan kondom yang baru baik untuk seks anal atau seks vaginal. Gunakan lubricant atau pelumas berbasis air agar kondom tidak rusak. Selain itu, wanita juga dapat menggunakan kondom wanita.

4. Tes HIV

Pemeriksaan HIV adalah satu-satunya diagnosis HIV yang paling tepat. Ada beberapa jenis tes HIV, seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan antibodi, pemeriksaan kombinasi antibodi dan antigen. Bila Anda berada dalam golongan orang yang berisiko tinggi terkena HIV, maka segera lakukan tes HIV ini.

5. Sunat pada Pria

Berdasarkan bukti medis, pria yang sudah sunat dapat mengurangi risiko terkena infeksi HIV. Walaupun demikian, tetap lakukan cara pencegahan HIV/AIDS yang telah disebutkan.

6. Tes Penyakit Menular Seksual

Anda dan pasangan dapat menjalankan tes penyakit menular seksual untuk memastikan keamanan saat berhubungan seksual nanti. Tes ini dapat menjadi langkah preventif untuk tidak menularkan penyakit menular seksual ke orang lain.

7. Profilaksis Pra Pajanan (PPrP)

Profilaksis pra pajanan (PPrP) atau pre-exposure prophylaxis (PrEP) adalah pencegahan HIV untuk seseorang yang tidak positif HIV namun memiliki risiko tinggi terpapar virus ini. Profilaksis pra pajanan (PPrP) menggunakan obat HIV khusus untuk mencegah HIV setelah berhubungan seksual.

Itulah beberapa cara mencegah HIV/AIDS yang dapat Anda dan pasangan lakukan. Sebaiknya, jujur pada pasangan bila Anda positif HIV dan lakukan perawatan terbaik. Apabila Anda melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang positif HIV, maka risiko untuk terpapar infeksi ini tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *