Mengenal Kelelawar, Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama

Mengenal Kelelawar, Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama,- Kampung Parangtinggia, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Maros, Sulawesi Selatan, bagi penutur bahasa Bugis dan Makassar terdengar seperti tempat yang tinggi. Senyatanya, kawasan ini di tanah landai berkeliling sawah. Sisi lain, bentang karst bak benteng kokoh pelindung kampung.

Parangtinggia juga seperti kebanyakan tempat di Maros. Sejuk. Bedanya, tempat ini, di jalan utama kampung, ada ribuan kelelawar (Chiroptera) menggelantung di cabang-cabang pohon, atau kabel listrik. Saat melintas di siang hari, suara berisik. Menjelang pukul 19.00-20.00, mamalia itu akan meninggalkan pohon.

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang mampu terbang hingga radius 40 km, dan selalu dalam kawanan besar untuk mencari sumber pakan. Di Indonesia, tercatat 239 jenis kelelawar, dan sekitar 70 jenis ada di Sulawesi.

Di Parangtinggia, kelelawar dapat diamati dari jarak dekat. Begitu jelas, mata melotot hitam, mengawasi gerakan. Ketika saya tepat sejajar dengan kerumunan, beberapa individu mulai mengeluarkan suara, lalu meniti dahan, dan menghindar. Saat kaki depan mamalia itu – yang sudah berfungsi jadi sayap – bergerak sayap akan terbuka. Matahari yang menerpanya memperlihatkan semburat urat-urat kecil, pada bagian dalam sayap yang seperti kulit tipis nan lembut tetapi elastis.

Melihat kelelawar menggelantung, sayap lembut itu bagai selimut yang membungkus badan hingga kepala. Beberapa betina beranak, juga terlindung dalam sayap hangat itu.

Di Kampung Parangtinggia, kelelawar yang menggelantung itu jenis Acerodon celebensis (kalong Sulawesi). Kelelawar pemakan buah. Warna bulu coklat dan beberapa bagian tubuh berwarna gelap hitam.

Di pohon mangga tepat di halaman rumah warga, tempat kelelawar itu bersarang, bau amoniak dari kecing dan tahi cukup menyengat.

Warga di Parangtinggia sudah terbiasa dengan bau itu. Bagi mereka, kelelawar membawa manfaat. Dalam beberapa tuturan, kelelawar itu pertama kali dipelihara seorang warga, pada 1980-an. Ada tiga kelelawar lalu beranak pinak. Warga juga percaya, kalau kelelawar itu memangsa hama perusak tanaman.

Acerodon adalah jenis kelelawar pemakan buah. Beberapa kelelawar lain berukuran lebih kecil adalah pemakan serangga. Di Karst Maros-Pangkep dengan luas mencapai 44.000 hektar, beberapa ceruk dan goa, ditempati kelelawar.

Di Kampung Rammang-rammang, salah satu tebing karst yang memiliki ceruk, jadi sarang kelelawar dan menghasilkan banyak kotoran. Kotoran itu jadi pupuk bagi penduduk desa.

Di Goa Batu, wisata Bantimurung, juga dihuni beberapa kelelawar kecil. Pada 12 Mei 2020, ketika saya mengunjungi goa itu, kelelawar bermain dengan bebas.

Sebelum pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), ketika pengunjung atau wisatawan setiap hari mengunjungi goa, kelelawar terlihat lebih banyak menggelantung di plafon. “Sepertinya, wabah Corona ini membuat bahagia kelelawar. Tidak ada yang mengganggunya,” kata Yudi, warga Bantimurung yang menenami saya.

Beberapa menit kami menikmati kelelawar itu beterbangan di mulut goa. Sesekali kami menggangu dengan menyalakan senter. “Goa ini kembali sejuk. Kalau musim wisatawan, beberapa meter masuk ke dalam goa masih hangat. Sekarang di mulutnya saja sudah sangat sejuk.”

Satwa penting bagi ekosistem

Kelelawar biasa dikaitkan sebagai satwa perusak buah, padahal sebaliknya. Ketika wabah Corona muncul dan menjangkiti hampir seluruh dunia, kelelawar dianggap sebagai biang kerok pembawa virus. Alasan inilah yang kemudian membuat pemerintah Kota Solo pada Jumat 13 Maret 2020, memusnahkan kelelawar di Pasar Depok, Panahan.

Di Kabupaten Luwu, ketika musim buah, seperti langsat dan mangga, beberapa warga menjaga kebun dan memasang gantungan kaleng dengan tali yang menjulur ke rumah kebun. Ketika kelelawar itu terlihat hinggap di pohon, tali itu akan ditarik untuk menciptakan keributan.

“Apa gunanya itu kelelawar. Makan buah saja,”

“Mau dimakan, tidak bisa juga. Mukanya saja kayak tikus.” Pernyataan itu saya dapatkan ketika mengirimkan pesan ke beberapa orang, tentang apa yang mereka pikirkan mengenai kelelawar.

Memusnahkan kelelawar adalah tindakan keliru. Sigit Wiantoro, peneliti biosistematika vertebrata di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, hal paling baik adalah tak memakan kelelawar dan tak merusak habitatnya.

“Memakan atau mengkonsumsi hewan liar, sebaiknya tidak dilakukan,”katanya.

Bagi Sigit, menjaga populasi kelelawar dan tak mengganggu habitat mereka adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.

Kelelawar, katanya, mamalia yang memiliki peranan penting dalam rantai ekosistem. Kawanan itu dapat jadi penyerbuk alami beberapa jenis buah, terutama durian. Selain itu, kelelawar juga memangsa beberapa serangga hama.

“Kini, makin sempitnya hutan dan hilangnya beberapa goa di kawasan kasrt menyebabkan populasi kelelawar makin menurun,” katanya.

“Salah satunya jenis Neopteryx frosti dari Sulawesi. Kelelawar ini sudah sangat jarang dijumpai. Ancaman lain yang begitu masif perburuan manusia.”

Meski demikian, sejak lama kelelawar diketahui jadi agen penyakit. Satwa ini dikenal sebagai reservoir host bagi beberapa virus penyebab penyakit.

“Dari 74 jenis kelelawar terdapat 66 jenis virus yang teridentifikasi. Termasuk lyssavirus, rabies, hendra/nipah virus, ataupun bat corona viruses,” kata Risma Illa Maulany, peneliti Kelelawar dari Laboratorium Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Risma meneliti bersama tim mengenai kelelawar sejak 2015. Di Prangtinggia, Simbang, mereka mendata 147 pohon dari 22 jenis kelelawar bersarang. Umumnya, pohon multi guna, seperti mangga, ataupun jati putih.

Di Kota Soppeng, ada 52 pohon dari 10 jenis, seperti jati putih (Gmelina arborea), angsana (Pterocarpus indicus), dan asam (Tamarindus indicus) yang jadi tempat bersarang kelelawar buah Pteropus alecto. Di Sinjai, habitat bersarang kelelawar buah baik Acerodon celebensis maupun Pteropus alecto (secara periodik) adalah jenis mangrove. “Di Parangtinggia, Acerodon celebensis secara permanen tinggal di kawasan itu. Sementara Pteropus alecto lebih bersifat temporer atau terdapat waktu dimana jenis ini berpindah ke tempat lain,” kata Risma.

Di Kampung Parantinggia, kelelawar yang bersarang ada dua jenis. Acerodon celebensis dan Pteropus alecto – keduanya pemakan buah. Pada 2018, ketika Risma dan tim mendata populasi, mereka menemukan Acerodon celebensis antara 6.347-7.036 setiap bulan. Untuk Pteropus alecto pada awal April setiap tahun hanya ditemui sekitar 30-an dan meningkat tajam pada Mei mencapai 1.800 per bulan.

Kelelawar bertahan dalam lingkungan manusia, karena saling memberikan manfaat. “Pemukiman manusia dirasakan memberikan keamanan bagi kelelawar buah karena ular yang jadi musuh utamanya, juga jadi musuh bagi manusia,” kata Risma.

Dia bilang, di daerah tropis, kira-kira ada 300 tanaman yang pembuahan tergantung kelelawar dan diperkirakan 95% regenerasi hutan oleh kelelawar jenis pemakan buah atau madu.

Penelitian lain juga menyebutkan, biji yang disebarkan kelelawar mempunyai tingkat perkecambahan lebih tinggi dibandingkan dengan perkecambahan alami atau langsung tanpa bantuan satwa.

Sedangkan kelelawar serangga banyak berperan sebagai agen dalam mengendalikan populasi serangga khusus hama seperti wereng.

Satwa penting dan habitat terancam

Kelelawar buah Sulawesi (Acerodon celebensis) adalah endemik Pulau Sulawesi. Berdasarkan IUCN, satwa ini tergolong vulnerable atau rentan dan masuk apendiks II CITES, namun tak dilindungi UU Indonesia.

Sheherazade, Manager Program Progres, lembaga nirlaba yang bekerja dalam isu ekologi di di Sulawesi mengatakan, perhatian konservasi masih sangat kurang.

Di Sulawesi, meski dinyatakan hotspot atau wilayah yang memiliki nilai keragaman tinggi, rupanya masih kurang. Padahal, secara geologi komposisi biodiversity sangat unik dan endemik. Salah satu, mengenalkan kelelawar sebagai bagian dari ekosistem yang harus dijaga (www.poniki.id ).

Sebelumya, 2017, Shera, sapaan akrab Sheherazade, melakukan penelitian mengenai kelelawar buah di Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Penelitian itu selama musim berbunga dan berbuah durian semi-liar antara Oktober Barat hingga November 2017 dan berlanjut hingga Januari 2018.

Shera dalam, Contributing of bats the local economy throught durian pollination in Sulawesi, Indonesia, terbitan Willey bioTropica pada September 2019, menuliskan, kalau satwa yang mendatangi bunga durian terdiri dari empat spesies vertebrata (tiga spesies kelelawar dan satu marsupial arboreal) dan dua spesies invertebrata (masing-masing spesies lebah dan ngengat).

Tiga spesies kelelawar (Eonycteris spelaea kecil dan Pteropus alecto yang lebih besar (kalong hitam) dan Acerodon celebensis (kalong Sulawesi), katanya, pengunjung utama bunga durian dalam perlakuan penyerbukan.

Desa ini membentang dari dataran rendah pesisir ke daerah pedalaman dan pegunungan yang didominasi hutan sekunder bercampur berbagai tanaman perkebunan. Di sebagian besar Sulawesi, durian tak tumbuh di perkebunan monokultur seperti tipikal di Asia Tenggara, tetapi tersebar di hutan sekunder dalam sistem wanatani campuran yang dikelola bersama dengan kakao (Theobroma cacao), rambutan (Nephelium lappaceum), langsat (Lansium parasiticum), dan mangga (Mangifera indica).

Di tempat berbeda, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, tempat saya bermukim, penggambaran Sheherazade, mengenai kelelawar di Sulawesi Barat, hampir sama. Saat musim bunga durian, langit jelang magrib akan menampilkan ribuan kelelawar melintas. Kelelawar-kelelawar itu bersarang di kawasan mangrove pesisir pantai.

Ketika menjelang pagi, bunga-bunga durian yang berwarna krem, akan berjatuhan di bawah lantai pohon. Selama proses itu, warga beranggapan kalau kelelawar akan merusak durian dan menggagalkan pembuahan. Setelah musim bunga berlalu, biji-biji kecil sebagai cikal buah akan bermunculan di dahan pohon. Saat itu kelelawar akan menghilang.

Menjelang 2010, ketika lahan pertambakan makin masif di pesisir, kawasan mangrove rumah kelelawar makin menyempit, dan kelelawar pun menghilang. Kini, buah durian di Kecamatan Suli pun ikut berkurang Poker Online Indonesia.

Shera menjelaskan, jika kelelawar dapat mengunjungi 38 dari 43 bunga majemuk. Dengan menggunakan kamera trap, dia dapat membedakan tiga jenis kekelewar yang mengunjungi bunga, Eonycteris spelaea lebih kecil dibanding yang lain dan memiliki bulu paling terang (keabu-abuan). Sedangkan Acerodon celebensis tampak lebih kecil dan lebih terang dari Pteropus alecto. “Ketiga spesies diamati minum nektar dari tabung bunga durian tanpa merusak bunga. Meskipun A. celebensis dan P. alecto memiliki tubuh relatif lebih besar dari bunga durian, tetapi mereka menggantung di cabang-cabang pohon dan menundukkan kepala ke arah bunga ketika minum sehingga tidak merusak bunga majemuk,” tulis Sheherazade.

Bagi Shera, dengan pendekatan bioekonomi, diperkirakan kalau penyerbukan kelelawar bernilai US$117 per hektar per musim buah. “Selain nilai ekonomi, poin pentingnya, upaya dalam mengenalkan konservasi kelelawar,” katanya.

Di Desa Batetangnga, musim berbuah durian sekali setahun dan berlangsung sekitar dua bulan, antara Oktober-November 2017. Kemudian musim berbuah dan panen dari Januari hingga awal April 2018. Selama periode ini, produksi durian di desa ini sekitar 1.497.600 buah. Penduduk desa menjual Rp5.000 per buah. “Kami memperkirakan, layanan penyerbukan kelelawar Rp6,3 miliar (US$ 450.000). Karena Desa Batetangnga mencakup sekitar 44,8 km2,” kata Sheherazade.

Bagi warga, kelelawar membawa manfaat. Dalam beberapa tuturan, kelelawar itu pertama kali dipelihara seorang warga, pada 1980-an. Ada tiga kelelawar lalu beranak pinak. Warga juga percaya, kalau kelelawar itu memangsa hama perusak tanaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *