Fakta Sains tentang Naga

Fakta Sains tentang Naga – Naga adalah makhluk legenda dalam mitos dan budaya rakyat Tiongkok.

Legenda tentang naga sudah ada sejak 2.000 tahun yang lalu. Berikut ini adalah fakta menarik tentang naga.

Kita mengenal naga dari Tiongkok yang berbentuk ular. Padahal kalau kita pergi ke Tiongkok, ada lo, naga berbentuk ikan atau kura-kura.

Memang yang paling terkenal adalah naga berbentuk ular berkaki empat.

Naga adalah sosok makhluk sejenis reptil raksasa yang dapat terbang dan menyemburkan api dari mulutnya. Dalam dunia satwa, sebetulnya julukan naga mengarah pada komodo, spesies endemik asal Indonesia. Namun, tentu saja bukan naga itu yang akan kita bahas kali ini.

Secara bentuk, naga ini merupakan gabungan dari beberapa bentuk binatang, yakni berbadan ular, berkepala unta, bertanduk rusa, dan bercakar burung elang.

Bagi orang Tionghoa, naga merupakan lambang kekayaan, kekuatan, dan kepemimpinan.

Banyak orang Tionghoa ingin melahirkan anak pada tahun naga yang muncul 12 tahun sekali. Tahun naga yang terakhir terjadi pada tahun 2012.

Berarti tahun naga berikutnya akan terjadi pada tahun 2024.

Konsep tentang naga sudah ada sejak zaman kuno

Apakah naga benar-benar ada? Sampai saat ini, naga termasuk dalam makhluk mitos di mana keberadaannya hanya diperkuat dengan cerita atau kesaksian yang dikisahkan secara turun temurun. Live Science mencatat bahwa kepercayaan terhadap keberadaan naga bisa begitu kuat karena dikisahkan dari generasi ke generasi.

Bahkan, konsep tentang naga sudah ada di Tiongkok sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Gambaran naga juga ada dalam teologi sebuah kepercayaan dan sudah dikisahkan pada abad pertengahan di Eropa.

Jadi, bagi sains, naga hanya sebatas pada sebuah konsep naratif yang dipercaya oleh orang-orang zaman dulu. Kisah-kisah naratif tersebut diceritakan dari satu generasi ke generasi-generasi selanjutnya.

Kini, naga sering digambarkan dalam sebuah karya seni. Gambaran naga selalu diceritakan sebagai sosok yang kuat, tangguh, dan menyeramkan. Hal ini sebetulnya mirip dengan konsep naratif lainnya, misalnya phoenix, pegasus, kraken, dan lain sebagainya.

Makhluk mitos, termasuk naga, sebetulnya adalah gambaran organisme biasa

Jika diperhatikan, hampir semua makhluk mitos yang dikisahkan secara turun temurun sebetulnya adalah penggambaran organisme biasa. Nah, organisme tersebut ditambahkan beberapa unsur “bumbu penyedap” untuk menguatkan kisah naratif tadi.

Mau bukti? Banyak. Jika kamu melihat gambaran seekor naga, maka mereka digambarkan sebagai reptil yang bertelur. Hanya saja, kisah-kisah kuno sering menambahkan “sesuatu” pada reptil tersebut. Jadilah naga berwujud reptil raksasa bersayap yang dapat menyemburkan api dari mulutnya.

Begitu juga phoenix yang diambil dari spesies unggas. Orang zaman dulu menceritakan sosok unggas tersebut sebagai burung raksasa abadi yang diselimuti oleh api yang akan membakar apa saja di dekatnya.

Ada lagi pegasus yang sebetulnya diambil dari mamalia kuda, namun ditambahkan sayap supaya lebih dianggap sakral. Begitu juga dengan big foot, yang konsepnya diambil dari primata yang mirip dengan manusia purba.

Mengapa tak ada yang baru dengan konsep-konsep tersebut? Mengapa organisme asli yang justru muncul, dan bukan organisme yang benar-benar baru atau orisinal? Itu karena mereka hanya sebatas imajinasi. Manusia zaman dulu menggambarkan mereka berbasis pada apa yang pernah mereka lihat seperti kadal, mamalia, unggas, kera, dan lain sebagainya.