Edukasi Antikorupsi lewat media Sosial “Instagram”

Edukasi Antikorupsi lewat media Sosial “Instagram” – Berbicara mengenai korupsi yang menjadi permasalahan rumit dalam sebuah birokrasi pemerintah. pejabat yang melakukan tindakan korupsi lebih menyukai proyek yang umum atau publik dibanding privat. Secara umum terjadinya korupsi dan/atau gratifikasi disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal terdiri dari aspek sosial dan aspek perilaku individu yaitu : 1) aspek sosial, keluarga dapat menjadi pendorong seseorang untuk berperilaku koruptif. Secara harfiah, lingkungan keluarga justru dapat mendorong terjadinya korupsi, mengalahkan sifat baik yang sebenarnya telah menjadi karakter pribadinya. 2) aspek perilaku individu, korupsi dapat terjadi pada kehidupan sehari-hari seperti halnya gaya hidup yang konsumtif, sifat rakus atau tamak, serta moral dari masing-masing individu yang lemah.

Di lansir https://onlinetradingsouthafrica.com/  pada umumnya sikap dari masyarakat selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan oleh sedikit oknum dalam sebuah organisasi.

Tindakan korupsi secara khusus memiliki dampak negatif terhadap pegawai Aparatur Sipil Negara dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti aspek politik, ekonomi, sosial-budaya, ketahanan dan keamanan, agama, serta ekonomi. Secara spesifik, bahaya tindakan korupsi yakni: terhadap bidang ekonomi, korupsi dapat mengganggu perkembangan ekonomi suatu negara. Terhadap bidang politik, kekuasaan yang didapatkan dari alur korupsi akan menghasilkan pemerintahan yang tidak baik atau kotor. Terhadap bidang ketahanan, keamanan, dan keadilan sosial, korupsi termasuk gratifikasi membuat bidang-bidang tersebut tidak efisien.

Peran penting Instagram di tengah masyarakat

Data menyebutkan mengenai rekaputalasi tindak pidana korupsi per 31 Desember 2018, di mana pada tahun 2018 Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan penanganan tindak pidana korupsi dengan rincian: penyelidikan 164 perkara, penyidikan 199 perkara, penuntutan 151 perkara, inkracht (berkekuatan hukum tetap dan tidak ada upaya hukum biasa yang dapat ditempuh lagi) 106 perkara, dan eksekusi 113 perkara. Korupsi di Indonesia kerap kali terjadi dan berdampak buruk bagi kelangsungan negara, begitu banyaknya hingga merambat pada kasus korupsi terbesar dengan kerugian negara terbesar.

Tindakan korupsi merupakan sikap individu atau kelompok yang tidak terpuji upaya memperoleh keuntungan sendiri melalui cara yang dianggap ilegal dari segi hukum. Adanya tindakan korupsi bertentangan dengan arti penting dan fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Di era globalisasi ini, korupsi telah membudaya dalam kehidupan masyarakat dan semakin meningkat tiap tahunnya. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya berupaya untuk melakukan pemberantasan yang menyeluruh hingga lingkup masyarakat kecil. Pencegahan ini bertujuan agar Indonesia tidak mengalami kemerosotan pada berbagai aspek karena dampak dari tindakan korupsi begitu negatif dan mengancam eksistensi negara.

Unggahan edukasi dapat berupa foto dan video, unggahan dalam bentuk foto berupa poin-poin penting dan mendasar yang dibuat sekreatif mungkin agar pengguna Instagram tertarik untuk membacanya. Sedangkan video yang diunggah merupakan lanjutan dari poin-poin yang ada pada foto, dalam video ini poin-poin tersebut diperjelas dengan detail dan spesifik. Menggunakan Instagram sebagai media mengunggah berbeda dengan media sosial lainnya, deskripsi dari unggahan tidak dapat dimanipulasi oleh pengguna Instagram lainnya dan dapat menyertakan sumber atau data yang valid. Unggahan tersebut juga dapat disebarluaskan ke media sosial lainnya seperti Twitter dan Facebook.

Tanpa disadari, Instagram memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap gaya hidup individu saat ini. Ketika suatu topik permasalahan sangat ramai dibicarakan di Instagram, hampir seluruh pengguna aktif di dunia dapat mengetahui topik permasalahan tersebut bahkan ketika hal itu terjadi di negara lain. Pengaruh yang begitu besar membuktikan bahwa Instagram menjadi tempat yang cukup tepat untuk melakukan sebuah edukasi non-formal. Contohnya, edukasi mental health yang sedang ramai dibicarakan mampu memberikan sebuah pengetahuan baru untuk masyarakat yang masih awam terhadap hal tersebut dan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hal tersebut. Jika edukasi antikorupsi juga melakukan hal yang sama hingga mampu ramai dibicarakan khalayak ramai, maka tidak menutup kemungkinan edukasi ini akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya edukasi antikorupsi untuk penerus bangsa.