Masker dan Sarung Tangan Menjadi Masalah Lingkungan Baru Selama Pandemi

Masker dan Sarung Tangan Menjadi Masalah Lingkungan Baru Selama Pandemi

Masker dan Sarung Tangan Menjadi Masalah Lingkungan Baru Selama Pandemi

Masker dan Sarung Tangan Menjadi Masalah Lingkungan Baru Selama Pandemi,- Pandemi COVID-19 memberikan masalah baru bagi lingkungan, dengan sarung tangan lateks dan masker yang memenuhi pantai-pantai dan selokan.

Sejumlah organisasi telah menyuarakan keprihatinan mereka mengenai lautan, sungai, dan selokan yang semakin dibanjiri masker wajah sekali pakai, sarung tangan lateks, botol penyanitasi tangan, sisa-sisa alat pelindung diri (APD), serta barang-barang nondaur ulang lainnya saat dunia bergulat dengan COVID-19.

Dilansir dari IFL Science, sekelompok konservasi laut dari Prancis, Opération Mer Propre, secara rutin mendokumentasikan operasi pembersihan laut yang mereka lakukan di media sosial. Belum lama ini, kelompok tersebut melaporkan bahwa mereka melihat lebih banyak potongan APD di Laut Mediterania.

“Ini berita yang sangat mengkhawatirkan. Kami menemukan sampah-sampah baru terkait pandemi, terutama sarung tangan lateks,” ungkap Opération Mer Propre dalam akun Facebook mereka.

Sampah masker dan sarung tangan di lautan.
Sampah masker dan sarung tangan di lautan.

Pada operasi pembersihan yang dilakukan 23 Mei lalu, mereka pertama kali menemukan masker di Laut Mediterania. “Ini baru permulaan, dan apabila tidak ada perubahan dalam menanganinya, maka sampah-sampah tersebut bisa menciptakan bencana ekologis dan kesehatan yang nyata,” paparnya.

Tidak hanya di Eropa, beberapa kota di AS juga melaporkan bahwa selokan dan saluran air mereka tersumbat oleh sarung tangan lateks dan masker—yang mereka yakini dibuang di toilet.

Meskipun belum ada data terkait masalah ini, tapi Associated Press sudah menghubungi 15 pejabat kota di AS dan mereka semua mengaku memiliki masalah yang sama mengenai penyumbatan saluran air setelah pandemi terjadi.

Sehubungan dengan masalah pencemaran ini, Enviromental Protection Agency AS merilis pernyataan yang meminta masyarakat untuk membuang alat pelindung diri dengan benar Poker IDN Deposit Pulsa.

Termasuk tidak memasukkan tisu desinfektan, sarung tangan, masker atau limbah medis ke lubang toilet. Juga agar tidak membuangnya ke tempat sampah daur ulang karena dapat terkontaminasi oleh patogen dan membahayakan kesehatan.

Selain itu, sejumlah organisasi daur ulang telah mendesak orang-orang untuk membuang masker dan sarung tangan dengan aman di tempat sampah umum.

“Tidak ada seorang pun yang boleh membuang sarung tangan atau masker di tanah, di tempat parkir, atau melemparkannya ke semak-semak,” kata David Biderman, direktur eksekutif dan CEO Solid Waste Association of North America (SWANA).

“Membuang sampah medis sembarangan dapat meningkatkan risiko paparan COVID-19 dan juga memiliki dampak negatif pada lingkungan,”

Source : IFL Science
Editor : Rimba

Erick Thohir Rombak Direksi dan Komisaris Bukit Asam

Erick Thohir Rombak Direksi dan Komisaris Bukit Asam

Erick Thohir Rombak Direksi dan Komisaris Bukit Asam

Erick Thohir Rombak Direksi dan Komisaris Bukit Asam – Menteri BUMN posterior renovasi Erick Thohir pejabat perusahaan yang dimiliki. Kali ini, PT Bukit Asam Tbk adalah atau TBNA.

Dalam TBNA sebuah, Rabu (2020/06/10) pernyataan, reformasi telah disetujui dalam Rapat Umum (RUPS). Pemegang saham menyetujui pengangkatan Palapa Surya Hadis sebagai direktur operasi produksi dan menggantikan Eko Suryo Hadianto.

Selain itu, lift AGM E Piterdono HZ, Carlo Brix Tewu dan Irwandy Arif sebagai komisaris menggantikan Robert Heri, Taufik Madjid dan Soenggoel Pardamean Sitorus. Andi Pahril Pawi ditunjuk sebagai komisaris independen Heru Setyobudi menggantikan Suprayogo.

Selain itu, RUPS juga menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 3,65 triliun.

“Jumlah dividen kas yang dibagikan adalah 90% dari total laba bersih perseroan di 2019 sebesar Rp 4,1 triliun,” membaca pernyataan itu.

Berikutnya, Dewan juga menyetujui laporan tahunan Direksi pada kondisi dan jalannya perusahaan selama tahun 2019, persetujuan laporan tahunan termasuk laporan keuangan dari program kemitraan dan bina lingkungan tahun keuangan 2019 juga sebagai pembentukan bonus untuk direksi dan dewan komisaris dari tahun fiskal 2019 perusahaan dan gaji / biaya, fasilitas dan tunjangan lainnya selama tahun 2020.

Menteri BUMN Erick Thohir telah memotong BUMN 142-107 BUMN asli yang merupakan bagian dari program restrukturisasi. Yaitu 35 telah dihapus dari perusahaan-perusahaan negara keseluruhan.
Erick mengatakan, restrukturisasi ini telah dikoordinasikan dengan menteri terkait.

“Dalam hal ini restrukturisasi untuk membuat keputusan bersama-sama dengan menteri keuangan dan diskusi dengan menteri terkait harus dilakukan,” katanya pada pertemuan dengan Komisi VI DPR, Selasa (2020/06/09).

“Terima kasih Tuhan untuk 142 BUMN saat ini dapat kita kategorikan nama BUMN tinggal 107, jumlah tersebut telah berkurang cukup signifikan,” tambahnya.

Bahkan, Erick ingin jumlah BUMN menjadi 70 hingga 80 perusahaan milik negara. Kemudian, kata dia, kelompok BUMN juga dipangkas 27-12 cluster.

“Pengelompokan alhamdulillah kita mengurangi jumlah itu 27, sekarang nomor 12, latihan masing-masing Wamen di 6 kelompok,” katanya.

Dalam kelompok ini, negara dikelompokkan berdasarkan rantai pasoknya. “Kelompok ini disebut didasarkan pada rantai nilai, rantai pasokan atau bagaimana mensinergikan ada kegiatan utama” tambahnya.

Erick mengatakan kembali, jumlah EP sekarang 107. Artinya, berkurang dari 35.142 EPE sebelumnya.

“Jumlah perusahaan milik negara telah itu berkurang dari 142 ke 107. Dan kami mencoba untuk mengikuti satu tahun jika mungkin, nomor 90-80,” katanya.

Mengenang Joe Brown, Pendaki Legendaris yang Wariskan Jalur Pendakian

Mengenang Joe Brown, Pendaki Legendaris yang Wariskan Jalur Pendakian

Mengenang Joe Brown, Pendaki Legendaris yang Wariskan Jalur Pendakian

Mengenang Joe Brown, Pendaki Legendaris yang Wariskan Jalur Pendakian,- Pada 1950-an dan 1960-an, pendaki Joe Brown menginspirasi banyak generasi baru pendaki gunung dengan serangkaian pendakian yang berani–baik di dalam maupun luar negeri. Dari Gerbang Pemakaman Snowdonia ke Kanchenjunga di Himalaya, Brown mendapatk julukan sebagai Sang Master.

Brown, lahir di Ardwick, Manchester. Ia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah seorang tukang bangunan yang beralih menjadi pelaut, sedangkan ibu Brown bekerja sebagai tukang bersih-bersih.

Selama Perang Dunia II, keluarga mereka pindah ke Chorlton-cum-Medlock. Ketika rumah di sebelahnya dihantam alat pembakar, keluarga itu pindah lagi ke Longsight. Brown meninggalkan sekolah pada usia 14 tanpa kualifikasi dan dilatih sebagai tukang ledeng dan tukang bangunan.

Peak District Pendakian Pertama Joe Brown

Mitos mengatakan bahwa saat melakukan pendakian pertamanya di Peak District, ia menjadikan tali cucian ibunya sebagai tali. Brown kemudian mengklarifikasi bahwa sebenarnya itu adalah seutas tali yang ditemukan di sekitar beberapa perbaikan jalan. Seperti yang tertera pada Independent.

Brown menjadi bagian dari komunitas pendakian Peak District. Setelah menyelesaikan dinas nasionalnya di Korps Ordnance Angkatan Darat Kerajaan, ia bertemu sesama pendaki kelas pekerja Don Whillans. Sebagai bagian dari kelompok pendakian Rock and Ice Club, kedua lelaki itu mengubah wajah pendakian sampai sekarang.

Mereka membuka rute baru pendakian keras Inggris yang menjadi patokan baru. Seperti garis celah di dinding kanan Cenotaph Corner, di Dinas Cromlech di Snowdonia’s Llanberis Pass, yang pertama kali didaki Brown dan Whillans pada tahun 1951. Mereka menyebutnya rute baru ini sebagai Gerbang Pemakaman.

Brown dan Whillans juga membuka rute baru di Pegunungan Alpen. Namun, pada tahun 1955, Brown berpisah dari Whillans. Ia bergabung dengan ekspedisi Charles Evans untuk mengukur permukaan barat daya puncak Himalaya, Kanchenjunga. Brown pun mencapai puncaknya pada 25 Mei 1955, bermitra dengan George Band.

Setahun kemudian, Brown adalah orang pertama yang memanjat puncak barat Menara Muztagh di jajaran Karakoram yang berbatasan dengan India, Pakistan dan Tiongkok bersama Ian McNaught-Davis.

Beberapa pendakian Brown ditayangkan di televisi. Seperti pertunjukan 1980-an tentang Old Man of Hoy. Dia juga membuat program tentang memancing dan pada tahun 1986 berperan sebagai tubuh Jeremy Irons untuk adegan air terjun dalam film Roland Joffe, The Mission IDN Poker Deposit Pulsa Indosat.

Brown terus mendaki ke usia enam puluhan, ketika ia menjadi bagian dari ekspedisi ke punggun utara-timurlaut yang sebelumnya tak pernah ditaklukkan. Dia dijadikan CBE (Commander of the Order of the British Empire) pada 2011 untuk panjat tebing dan pendakian gunung. Dia mengatakan kepada BBC pada saat itu: “Menerima CBE sangat aneh, karena sepertinya saya diberi imbalan karena bersenang-senang.”

Dia menikahi Valerie Grey pada tahun 1957 dan dikaruniai dua anak. Pendaki kelahiran 26 September 1930 itu meninggal dunia pada 15 April 2020 di usianya yang menginjak 89 tahun.

 

Sumber: National Geographic, independent

Ditinggal Aramco, Pertamina Cari Mitra Lain Bangun Kilang Cilacap

Ditinggal Aramco, Pertamina Cari Mitra Lain Bangun Kilang Cilacap

Ditinggal Aramco, Pertamina Cari Mitra Lain Bangun Kilang Cilacap

Ditinggal Aramco, Pertamina Cari Mitra Lain Bangun Kilang Cilacap – Saudi Aramco tidak lagi menjadi mitra dalam pembangunan kilang RDMP Cilacap. Saat ini, PT Pertamina (Persero) sedang mencari mitra lain untuk membangun kilang.

“Cilacap tidak lagi dengan Saudi Aramco, Pertamina sendiri dalam hal ini adalah dalam proses menemukan pasangan baru sementara segala sesuatu disiapkan apa yang ada,” kata Direktur Pengolahan dan Petrokimia Ignacio megaproyek Tallulembang di teleconference pada hari Jumat (2020/05/06).

Ignacio mengatakan, pembahasan kerjasama dengan Saudi Aramco sendiri telah diperpanjang sampai April 2020 dan setelah.

“Menurut perjanjian akhir tahun lalu, akan memperpanjang kerjasama sampai April untuk melakukan analisis studi korban yang kami tawarkan,” katanya Download Joker388 Ios.

Dia menjelaskan bahwa setelah komunikasi intens, Aramco memiliki pengembangan Cilacap RDMP untuk segera dilakukan. CEO Saudi Aramco sendiri telah mengirimkan surat kepada Pertamina untuk melakukan segera. Namun, karena Aramco masih fokus pada hal-hal lain saya tidak bisa bergabung dalam proyek ini.

“Aramco diangkut melalui surat resmi kepada Presiden CEO Pertamina jangan, silakan eksekusi Pertamina Cilacap atau konstruksi, mengingat fokus Saudi Aramco pada hal-hal lain sehingga silakan lanjutkan,” katanya.

“Ini berarti mereka sepenuhnya menyadari tidak bisa bergabung dengan kilang Cilacap kerja sama ini,” katanya.

PT Pertamina (Persero) untuk memastikan bahwa rancangan rencana direktur pengembangan kilang (RDMP) Cilacap terus fungsi dalam rangka mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan mencapai keamanan energi nasional.
“Pertamina Cilacap RDMP terus secara independen, sementara pencarian paralel akan menjadi mitra strategis baru,” kata Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Fajriyah Usman dalam keterangan tertulis, Kamis (2020/05/28).

Meskipun penurunan permintaan bahan bakar dan tekanan pada nilai tukar rupiah untuk COVID-19 pandemi, ia menambahkan, sisa-sisa Pertamina difokuskan pada pelaksanaan proyek-proyek strategis nasional. Proyek ini diamanatkan oleh pemerintah, termasuk pembangunan kilang Cilacap sebagai bagian dari proyek RDMP / GRR Pertamina.

Hari Lingkungan Dunia dan Satu Bumi Kita

Hari Lingkungan Dunia dan Satu Bumi Kita

Hari Lingkungan Dunia dan Satu Bumi Kita

Hari Lingkungan Dunia dan Satu Bumi Kita,- Hari ini, 5 Juni 2020 adalah Hari Lingkungan Dunia. Sejarah dari Hari Lingkungan Dunia atau sering disebut sebagai ‘World Environment Day’ dan juga ‘People Day’ ini adalah hari untuk menggerakan masyarakat dan pemerintah serta dunia bisnis untuk merawat bumi dan lingkungannya. Ini adalah hari peringatan yang diluncurkan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pada 1974 dan dianggap sebagai salah satu hari internasional yang sangat penting.

Diawali dengan suatu konprensi dunia tentang lingkungan hidup pada 5 sampai 16 Juni 1972 di PBB. Dan sejak 1974, setelah disahkannya tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Dunia, berbagai kampanye yang dilakukan oleh the United Nations General Assembly and United Nations Environment Programme (UNEP) mendengungkan tentang bumi yang satu, bumi kita.

Pada tahun 2019 peringatan Hari Lingkungan Dunia dilakukan di Cina dengan tema polusi. Sementara tahun ini peringatan dipusatkan di Colombia dengan tema Keragaman Hayati.

Keragaman hayati mendukung bukan hanya tanah dan air, termasuk makhluk yang hidup di bawahnya. Keragaman Hayati menyediakan udara segar, air, makanan, dan sumber pengobatan.

Sementara itu, perilaku dan tindakan manusia seperti deforestasi, dan perusakan serta pelanggaran pada kehidupan binatang liar, pembangunan sektor pertanian yang intensif, dan peningkatan pemanasan global adalah hal yang merusah keseimbangan lingkungan dan bahkan ‘menyiksa’ bumi dan lingkungannya.

Pemilihan tema keragaman hayati menjadi titik tolak dari pembelajaran berbagai peristiwa kebakaran hutan di Brazil, di Amerika, Australia dan juga kebakaran hutan di Indonesia, termasuk kebakaran di Kalimantan pada tahun 2019, dan juga karena adanya pandemi global COVID-19 yang sedang terjadi ini.

Keragaman Hayati dan Upaya Menghindari Pandemi

Banyak diskusi tentang mengapa pandemi COVID-19 terjadi. Mulai dari pespektif agama yang mempersalahkan tindakan manusia yang berdosa sampai dengan teori konspirasi tentang dibuatnya virus COVID-29 untuk alasan penguasaan ekonomi maupun alasan lainnya.

Sayangnya, meskipun diskusi telah dilakukan dalam hal keterkaitan rusaknya keragaman hayati dan kemungkinan berkembangnya virus di dunia, namun pemasyarakatan akan hal ini terbatas. Bahkan, beberapa pemerintah seakan tidak memahami keterkaitannya. Buktinya, beberapa negara malah mendorong eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alamnya, termasuk sumber daya hutannya untuk menggenjot perekonomian pada saat dan pasca pandemic COVID-19.

Penjelasan tentang keterkaitan rusaknya keragaman hayati dan munculnya virus, termasuk COVID-19, dan bagaimana pemeliharaan atas keragaman hayati dapat mencegah munculnya berbagai virus ‘zoonotic’ bisa dilihat pada video di saluran youtube ini Joker123 Tembak Ikan.

Yang menjadi kekecewaan adalah bahwa justru karena adanya pandemi ini malah menunda diskusi dan jadwal pelaksanaan pertemuan dan negosiasi terkait lingkungan dan kehidupan satwa liar. Misalnya, Konggress Konservasi Dunia “World Conservation Congress’ dijadwalkan ulang, yang semula akan dilakukan pada Juni 2020 di Marseille, Perancis, akan ditunda ke Januari 2021.

Padahal, rencananya pertemuan di tahun 2020 ini, PBB hendak mempertemukan delegasi 196 negara yang hendak memfinalisasi negosiasi kebijakan keragaman hayati untuk menggantikan target the 2010 Aichi Biodiversity yang akan kadaluwarsa pada akhir 2020. Transformasi sangat diperlukan untuk mencapai target target baru, apalagi dengan adanya pandemi.

Penundaan ini merisaukan banyak ahli lingkungan karena dunia akan kehilangan momentum untuk merawat keragaman hayati dan mengurangi dampak perubahan iklim, dan kemungkinan berkurangnya anggaran negara negara untuk dialokasikan pada upaya merawat keragaman hayati. (Mongabay.com, April 2020).

Penggiat lingkungan masih berharap bahwa pandemi merupakan momen para pihak untuk menjaga motivasi untuk melihat hubungan antara penyebab kerusakan keragaman hayati dengan kesehatan manusia, khususnya karena perubahan penggunaan tanah dan penurunan mutu ekosistem yang mendorong munculnya virus ‘zoonotic’

Kesadaran berbagai pihak akan hubungan antara kemunculan pandemi di dunia dalam kaitannya dengan berbagai revolusi industri sangat perlu dibangun. Industrialisasi, urbanisasi, dan deforstasi mendorong kemunculan berbagai pandemi di dunia.

Sejarah Pandemi (Sumber : Visual Capitalist)

Keberadaan pandemi yang satu dengan yang lain memang tertolong oleh perkembangan teknologi. Namun, tidak dapat ditutupi bahwa dampak ikutan dari industrialisasi, urbanisasi dan penggunaan lahan serta kegiatan ekonomi global sangat mempengaruhi kemunculan pandiemi. Intinya, globalisasi membawa pengaruh pada kesehatan manusia. Dan, kita diingatkan oleh sejarah kemunculan banyak pandemi yang ada setelah adanya berbagai revolusi industri di dunia.

Memang, pademi COVID-19 punya perbedaan besar karena ada ketika media sosial sudah menjadi bagian penting dari manusia. Pengetahuan dan juga ketakutan, kebingungan, bahkan hoaks serta upaya upaya penanggulangan pandemi banyak difasilitasi oleh media sosial.

‘Visualizing the History of Pandemics” (Nicholas LePan, Maret 2020), yang diterbitkan oleh the World Economic Forum menunjukkan sejarah pandemi dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa globalisasi.

Sebelum masa kejayaan Eropa, kehidupan manusia sangat lokal. Manusia lahir dan meninggal di tempat kelahiran. Transportasi dan komunikasi sangat lamban, bergantung pada alam.

Wabah Bubonic adalah pandemic pertama, terjadi antara abad 6 sampai 8 Masehi pada masa kekaisaran Roma. Pandemi kedua adalah black death’ muncul pertama di akhir masa kegelapan Eropa di abad 14 yang diikuti kelaparan dunia dan juga perang. Kedua pandemi itu muncul di masa pra modern dan penularannya dilakukan melalui media tikus yang melakukan perjalanan bersama kapal dagang.

Adalah pandemi ketiga dan seterusnya terjadi dengan cepat ke daratan dengan bantuan kapal kapal dagang dan juga dibangunnya rel kereta api. Kemajuan alat transportasi dan teknologi maritim antar benua membuat pandemi cepat menjalar. Ditemukannya wilayah wilayah baru oleh koloni menyebabkan hadirnya penyakit dari daratan Amerika dan Eropa menularkan kepada penduduk asli di ‘wilayah baru’.

Pandemi cacar air, tipus, kolera, dipteri, influenza menjadi bagian dari penyakit yang membunuh sekitar 90 sampai dengan 95% penduduk asli dunia. Pengecualian adalah terjadi pada tidak menyebarnya kolera ke Asia Selatan karena kelembaban udara tidak mendukung tumbuhnya pathogen kolera.

Memang revolusi industri menjadi pencetus banyak pandemic. Namun, pada saat yang sama revolusi industri diikuti revolusi kesehatan dengan lahirnya vaksin vaksin baru. Berbagai pandemi di masa millennium terjadi. Pandemi COVID-19 mungkin saja mempercepat Revolusi Industri 4.0.

Pandemi Ternyata Bukan Cara Bumi Beristirahat

Banyak kalangan masyarakat berpikir bahwa pandemic adalah cara bumi beristirahat. Adanya ‘social distancing’ dan pemberhentian kegiatan ekonomi dipercaya membawa ‘silver lining’ yang mendorong bumi untuk beristirahat. Langit membiru dan udara lebih segar karena industri beristirahat. Burung dan kupu kupu ada di langit Jakarta. Kanguru berjalan di Adelaide. Penguin menyeberangi jalan di Cape Town, dan lain lain kisah.

Terdapat kesan yang kurang tepat seakan bumi mendapat manfaat dari pandemi. Dalam realitanya, terdapat banyak kegiatan ekonomi di tingkat lokal dan di perdesaan di wilayah negara berkembang yang malah menekan adanya penggunaan lahan secara tak benar, karena memang lahan di desa adalah tabungan pada saat kemiskinan terjadi. Perburuan binatang makin meningkat, dan penebangan pohon serta kegiatan pertambangan liar juga meningkat untuk menunjang kehidupan manusia untuk bertahan dan ‘resilien’ karena pandemi.

Masyarakat yang sulit mendapat pendapatan di kota kembali ke desa, alias mudik seperti di Indonesia, dan repotnya, turut membawa penyakit dalam perjalanan mudiknya. Ini tentu menekan lebih keras pada kondisi di perdesaan.

Beberapa laporan menunjukkan bahwa beberapa negara juga melakukan kebijakan yang malah mengeksploitasi sumber daaya alam dan hutannya. Laporan tentan deforestasi di Asia, Afrika dan Amerika latin disinyalir oleh weforum.org. Pertambangan liar atas emas dan bebatuan di Amerika Latin dan Afrika juga meningkat. Wilayah konservasi dan eko wisata di Kenya dan World Heritage Sites di the Galpagos, Ecuador dan the Tubbataha Reef di Filipina juga terancam.

Perusakan perdesaan dan hutan ini akan terus terjadi. Diperkirakan hal ini akan mereda setelah perekonomian membaik. Inilah kekuatiran kekutiaran para aktivis lingkungan. Beberapa hal telah saya sampaikan pada artikel sebelumnya.

Memang kita tidak dapat menilai hitam-putih pada kebijakan seperti peremajaan kebun kelapa sawit di Indonesia sebagai salah satu sektor yang menjadi andalan di masa depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) diberitakan media mempercepat peremajaan tanaman kelapa sawit, salah satunya di wilayah Sumatera Utara. (infosawit.com, 22 Mei 2020).

Pemerintah mengatakan hendak melakukan penanaman kembali tanaman kelapa sawit seluas ribuan hektare (ha) tanpa menimbulkan tekanan dan deforestasi lebih lanjut sebagai bagian dari upaya melawan kampanye ‘hitam’ produk kelapa sawit yang disampaikan pemerintah telah dilakukan negara negara Eropa.

Dan Presiden Jokowi di acara KTT ASEAN-Uni Eropa, Manila meminta Uni Eropa mengakhiri praktik diskriminasi terhadap kelapa sawit Indonesia dan negara lain penghasil CPO. Di satu sisi, upaya menjalankan perkebunan kelapa sawit menjadi upaya pelestarian tanah dan lingkungan.

Di sisi lain, kurangnya keragaman hayati di wilayah ini tentu akan mengancam keseimbangan ekosistemnya. Tentu saja, upaya keras pemerintah untuk melindungi kondisi lahan dan dampak negatif dari aspek sosial dan ekonomi dari perkebunan kelapa sawit perlu diperjuangkan, mengingat selama ini upaya pada pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan masih sulit dilakukan.

Hal hal di atas tentu perlu menjadi bagian dari refleksi bukan hanya warga tetapi juga pemerintah dan korporasi di Indonesia.

Akankah kita siap bila hadapi pandemic setelah COVID-19 ini? Untuk siap berarti perlu perencanaan. Apa rencana kita ke depan?

Apakah pemerintah punya rencana ke depan terkait pelestarian keragaman hayati? Apakah pemerintah dan masyarakat akan memproduksi dan mengkonsumsi produk yang ramah lingkungan?

Apakah pemerintah memberi insentif pada upaya masyarakat dan korporasi untuk melakukan program yang mempertimbangkan keragaman hayati, dan bukan program pembangunan perkebunan yang mono-kultur yang selama ini justru mengorbankan hutan yang ada? Apakah pemerintah juga mempertimbangkan untuk menghukum korporasi pelanggar dan perusak lingkungan? Apakah pemerintah dan masyarakat akan secara serius mencegah adanya kebakaran (dan pembakaran) hutan?

Saya kira itu serangkaian pertanyaan untuk kita semua. Dan, rencana untuk mengimplementasikannya sangatlah penting pada momen pandemi COVID-19 yang juga belum berakhir.

Selamat Hari Lingkungan Dunia!

PLN Rilis Skema Biar Tagihan Listrik Tak Bengkak

PLN Rilis Skema Biar Tagihan Listrik Tak Bengkak

PLN Rilis Skema Biar Tagihan Listrik Tak Bengkak

PLN Rilis Skema Biar Tagihan Listrik Tak Bengkak – rilis faktur penagihan pelanggan perhitungan skema listrik dari rumah tangga PLN mendaki pada bulan Juni.

Dalam skema ini, pelanggan memiliki tagihan pada Juni naik lebih dari 20% di Mei karena penagihan menggunakan rata-rata tiga bulan terakhir, kenaikan tersebut akan dibayarkan oleh 40%, dan sisanya dibagi dengan tagihan yang sama dalam 3 bulan ke depan.

Keberadaan skema ini diharapkan bahwa pelanggan tidak akan mengalami shock karena tagihan meningkat tajam.

“Dengan skema perlindungan terhadap lonjakan tersebut, PLN harus memeriksa data dari setiap pelanggan per satu, untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk pelanggan yang mengalami kenaikan tidak normal,” kata Direktur commerce dan Pelanggan Manajemen Bob PLN Saril dalam keterangan tertulis, Kamis (2020/04/06).

“Jadi, Anda mengisi pelanggan biasanya dapat dilihat pada kedua atau ketiga pada awal setiap bulan, hanya dapat dikeluarkan dan dapat diakses pada tanggal 6 Juni,” tambahnya.

Dalam dua bulan terakhir, beberapa pelanggan yang mencapai sekitar PLN 75 juta rekening rata-rata bulanan dihitung dari 3 bulan terakhir. Tagihan listrik pada bulan April dan Mei, kebanyakan pelanggan ditagih menggunakan rata-rata Link Alternatif Joker388.

“Dengan skema perlindungan terhadap lonjakan tersebut, PLN mengatur puncak berjalan tagihan bulan Juni naik maksimal 40% dari tagihan untuk bulan sebelumnya agar tidak konsumen beban. Sisa tagihan tidak telah dibayar di bulan Juni, atau 60% dari kenaikan tagihan akan dibagi dalam 3 bulan ke depan, “katanya.

Lokasi Udara Terbersih di Dunia 2020

Lokasi Udara Terbersih di Dunia 2020

Lokasi Udara Terbersih di Dunia 2020

Lokasi Udara Terbersih di Dunia 2020,- Para peneliti telah mengidentifikasi sebuah wilayah di Samudra Selatan di lepas pantai Antartika sebagai wilayah yang memiliki udara terbersih di Bumi.

Sebuah tim ilmuwan iklim dari Colorado State University, yang dipimpin oleh Sonia Kreidenweis, ingin tahu seberapa jauh jangkauan partikel yang dihasilkan oleh industri dan aktivitas manusia, sebagaimana dikutip Daily Mail, Selasa, 2 Juni 2020.

Untuk mengetahuinya, mereka berlayar ke Samudra Selatan, yang mengelilingi Antartika di bawah 40 derajat Lintang Selatan, dan mengukur komposisi udara di beberapa titik.

Mereka mengambil pengukuran dari lapisan batas, bagian dari atmosfer yang lebih rendah yang bersentuhan langsung dengan permukaan laut dan mencapai ketinggian 1,2 mil ke atmosfer.

Sampel tim tidak menunjukkan aerosol atau partikel lain yang terhubung dengan polusi manusia atau aktivitas lainnya.

Sebaliknya sebagian besar partikel dan bakteri ditelusuri kembali ke wilayah angin dan daerah terdekat lainnya di mana bakteri dan materi mikroskopis dari laut bercampur dengan angin dan diedarkan melalui atmosfer.

Tim tersebut menggabungkan data angin untuk wilayah tersebut dengan analisis sampel lain yang dikumpulkan dari laut dan atmosfer di sekitar lokasi uji utama untuk melacak asal-usul partikel dalam bacaan awal Joker123 Tembak Ikan.

“Kami dapat menggunakan bakteri di udara di atas Samudra Selatan sebagai alat diagnostik untuk menyimpulkan sifat-sifat kunci dari atmosfer yang lebih rendah,” kata Thomas Hill dari Colorado State kepada blog berita universitas.

“Misalnya, bahwa aerosol yang mengendalikan sifat-sifat awan [Samudra Selatan] sangat terkait dengan proses biologis lautan, dan bahwa Antartika tampaknya terisolasi dari penyebaran mikroorganisme ke selatan dan pengendapan nutrisi dari benua selatan.”

“Secara keseluruhan, ini menunjukkan bahwa [Samudra Selatan] adalah salah satu dari sedikit tempat di Bumi yang paling sedikit terpengaruh oleh aktivitas antropogenik.”

Situs sebelumnya dari ‘udara terbersih’ dunia diidentifikasi oleh para peneliti pada tahun 2019 di Cape Grim di Tasmania, dekat tepi utara Samudra Selatan.

Peternak sapi di wilayah tersebut mengiklankan kualitas daging sapi mereka berdasarkan pada kemurnian udara dan air hujan bersih yang dihasilkannya untuk memberi makan rumput lokal yang dimakan sapi mereka.

PSBB Bandung, Tamu Hotel Wajib Pesan Kamar Via Online

PSBB Bandung, Tamu Hotel Wajib Pesan Kamar Via Online

PSBB Bandung, Tamu Hotel Wajib Pesan Kamar Via Online

PSBB Bandung, Tamu Hotel Wajib Pesan Kamar Via Online – Pemkot Bandung untuk memperluas pembatasan sosial kami besar (PSBB) dengan skala geser hingga 12 Juni mendatang. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dewi Kaniasari Walikota menjelaskan dalam Peraturan (perwal) menyebutkan bahwa hotel dan penginapan dapat bekerja lagi hari ini tercepat 2 Juni 2020, dengan beberapa ketentuan.

Keputusan perwal Nomor 32 tahun 2020 didasarkan pada PSBB untuk mempercepat COVID-19 Manajemen dan perwal Perubahan Ketiga Nomor 21 tahun 2020. Diundangkan pada tanggal 30 Mei 2020 oleh Wali Kota Bandung Oded M. Danial.

Salah satu ketentuan bahwa konsumen hanya dapat melakukan pemesanan online atau online. “Pemesanan kamar hotel dan akomodasi yang diperlukan melalui aplikasi online,” Kenny, dewi ucapan Kaniasari, mengatakan kepada AFP, Selasa (2020/06/02) katanya.

Ia juga menjelaskan Kenny, selama pusat layanan hotel ini PSBB proporsional berpotensi berkegiatan orang banyak akan dibatasi maksimal 30 persen. “Fasilitas bar, spa, pusat kebugaran dan kolam renang belum bisa beroperasi,” kata Kenny.

Bertanggung jawab untuk hotel ini juga wajib menerapkan protokol kesehatan bagi karyawan, pelanggan dan pengunjung. suhu tubuh harus diperiksa, menggunakan masker, memberikan penanda batas dan dua meter mengangkat antrian di kantor utama Download Joker123.

Setelah politik, ke restoran atau kafe yang dikenakan pembatasan jam operasional menghapus mulai 06:00-20: 12:00. Makan layanan hotel atau makan di restoran dapat dilakukan pada 6: 00-18: 00 sampai dengan 30 persen dari operasi kapasitas yang ada.

“Dine dengan maksimum 30 persen dan hanya dengan pemesanan sebelumnya. Jam operasional juga dibatasi pertemuan, bersama dengan makan pada saat layanan,” kata Kenny.

Mengenal Kelelawar Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama

Mengenal Kelelawar, Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama

Mengenal Kelelawar, Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama

Mengenal Kelelawar, Satwa Penyerbuk Tanaman dan Pengendali Hama,- Kampung Parangtinggia, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Maros, Sulawesi Selatan, bagi penutur bahasa Bugis dan Makassar terdengar seperti tempat yang tinggi. Senyatanya, kawasan ini di tanah landai berkeliling sawah. Sisi lain, bentang karst bak benteng kokoh pelindung kampung.

Parangtinggia juga seperti kebanyakan tempat di Maros. Sejuk. Bedanya, tempat ini, di jalan utama kampung, ada ribuan kelelawar (Chiroptera) menggelantung di cabang-cabang pohon, atau kabel listrik. Saat melintas di siang hari, suara berisik. Menjelang pukul 19.00-20.00, mamalia itu akan meninggalkan pohon.

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang mampu terbang hingga radius 40 km, dan selalu dalam kawanan besar untuk mencari sumber pakan. Di Indonesia, tercatat 239 jenis kelelawar, dan sekitar 70 jenis ada di Sulawesi.

Di Parangtinggia, kelelawar dapat diamati dari jarak dekat. Begitu jelas, mata melotot hitam, mengawasi gerakan. Ketika saya tepat sejajar dengan kerumunan, beberapa individu mulai mengeluarkan suara, lalu meniti dahan, dan menghindar. Saat kaki depan mamalia itu – yang sudah berfungsi jadi sayap – bergerak sayap akan terbuka. Matahari yang menerpanya memperlihatkan semburat urat-urat kecil, pada bagian dalam sayap yang seperti kulit tipis nan lembut tetapi elastis.

Melihat kelelawar menggelantung, sayap lembut itu bagai selimut yang membungkus badan hingga kepala. Beberapa betina beranak, juga terlindung dalam sayap hangat itu.

Di Kampung Parangtinggia, kelelawar yang menggelantung itu jenis Acerodon celebensis (kalong Sulawesi). Kelelawar pemakan buah. Warna bulu coklat dan beberapa bagian tubuh berwarna gelap hitam.

Di pohon mangga tepat di halaman rumah warga, tempat kelelawar itu bersarang, bau amoniak dari kecing dan tahi cukup menyengat.

Warga di Parangtinggia sudah terbiasa dengan bau itu. Bagi mereka, kelelawar membawa manfaat. Dalam beberapa tuturan, kelelawar itu pertama kali dipelihara seorang warga, pada 1980-an. Ada tiga kelelawar lalu beranak pinak. Warga juga percaya, kalau kelelawar itu memangsa hama perusak tanaman.

Acerodon adalah jenis kelelawar pemakan buah. Beberapa kelelawar lain berukuran lebih kecil adalah pemakan serangga. Di Karst Maros-Pangkep dengan luas mencapai 44.000 hektar, beberapa ceruk dan goa, ditempati kelelawar.

Di Kampung Rammang-rammang, salah satu tebing karst yang memiliki ceruk, jadi sarang kelelawar dan menghasilkan banyak kotoran. Kotoran itu jadi pupuk bagi penduduk desa.

Di Goa Batu, wisata Bantimurung, juga dihuni beberapa kelelawar kecil. Pada 12 Mei 2020, ketika saya mengunjungi goa itu, kelelawar bermain dengan bebas.

Sebelum pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), ketika pengunjung atau wisatawan setiap hari mengunjungi goa, kelelawar terlihat lebih banyak menggelantung di plafon. “Sepertinya, wabah Corona ini membuat bahagia kelelawar. Tidak ada yang mengganggunya,” kata Yudi, warga Bantimurung yang menenami saya.

Beberapa menit kami menikmati kelelawar itu beterbangan di mulut goa. Sesekali kami menggangu dengan menyalakan senter. “Goa ini kembali sejuk. Kalau musim wisatawan, beberapa meter masuk ke dalam goa masih hangat. Sekarang di mulutnya saja sudah sangat sejuk.”

Satwa penting bagi ekosistem

Kelelawar biasa dikaitkan sebagai satwa perusak buah, padahal sebaliknya. Ketika wabah Corona muncul dan menjangkiti hampir seluruh dunia, kelelawar dianggap sebagai biang kerok pembawa virus. Alasan inilah yang kemudian membuat pemerintah Kota Solo pada Jumat 13 Maret 2020, memusnahkan kelelawar di Pasar Depok, Panahan.

Di Kabupaten Luwu, ketika musim buah, seperti langsat dan mangga, beberapa warga menjaga kebun dan memasang gantungan kaleng dengan tali yang menjulur ke rumah kebun. Ketika kelelawar itu terlihat hinggap di pohon, tali itu akan ditarik untuk menciptakan keributan.

“Apa gunanya itu kelelawar. Makan buah saja,”

“Mau dimakan, tidak bisa juga. Mukanya saja kayak tikus.” Pernyataan itu saya dapatkan ketika mengirimkan pesan ke beberapa orang, tentang apa yang mereka pikirkan mengenai kelelawar.

Memusnahkan kelelawar adalah tindakan keliru. Sigit Wiantoro, peneliti biosistematika vertebrata di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, hal paling baik adalah tak memakan kelelawar dan tak merusak habitatnya.

“Memakan atau mengkonsumsi hewan liar, sebaiknya tidak dilakukan,”katanya.

Bagi Sigit, menjaga populasi kelelawar dan tak mengganggu habitat mereka adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.

Kelelawar, katanya, mamalia yang memiliki peranan penting dalam rantai ekosistem. Kawanan itu dapat jadi penyerbuk alami beberapa jenis buah, terutama durian. Selain itu, kelelawar juga memangsa beberapa serangga hama.

“Kini, makin sempitnya hutan dan hilangnya beberapa goa di kawasan kasrt menyebabkan populasi kelelawar makin menurun,” katanya.

“Salah satunya jenis Neopteryx frosti dari Sulawesi. Kelelawar ini sudah sangat jarang dijumpai. Ancaman lain yang begitu masif perburuan manusia.”

Meski demikian, sejak lama kelelawar diketahui jadi agen penyakit. Satwa ini dikenal sebagai reservoir host bagi beberapa virus penyebab penyakit.

“Dari 74 jenis kelelawar terdapat 66 jenis virus yang teridentifikasi. Termasuk lyssavirus, rabies, hendra/nipah virus, ataupun bat corona viruses,” kata Risma Illa Maulany, peneliti Kelelawar dari Laboratorium Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Risma meneliti bersama tim mengenai kelelawar sejak 2015. Di Prangtinggia, Simbang, mereka mendata 147 pohon dari 22 jenis kelelawar bersarang. Umumnya, pohon multi guna, seperti mangga, ataupun jati putih.

Di Kota Soppeng, ada 52 pohon dari 10 jenis, seperti jati putih (Gmelina arborea), angsana (Pterocarpus indicus), dan asam (Tamarindus indicus) yang jadi tempat bersarang kelelawar buah Pteropus alecto. Di Sinjai, habitat bersarang kelelawar buah baik Acerodon celebensis maupun Pteropus alecto (secara periodik) adalah jenis mangrove. “Di Parangtinggia, Acerodon celebensis secara permanen tinggal di kawasan itu. Sementara Pteropus alecto lebih bersifat temporer atau terdapat waktu dimana jenis ini berpindah ke tempat lain,” kata Risma.

Di Kampung Parantinggia, kelelawar yang bersarang ada dua jenis. Acerodon celebensis dan Pteropus alecto – keduanya pemakan buah. Pada 2018, ketika Risma dan tim mendata populasi, mereka menemukan Acerodon celebensis antara 6.347-7.036 setiap bulan. Untuk Pteropus alecto pada awal April setiap tahun hanya ditemui sekitar 30-an dan meningkat tajam pada Mei mencapai 1.800 per bulan.

Kelelawar bertahan dalam lingkungan manusia, karena saling memberikan manfaat. “Pemukiman manusia dirasakan memberikan keamanan bagi kelelawar buah karena ular yang jadi musuh utamanya, juga jadi musuh bagi manusia,” kata Risma.

Dia bilang, di daerah tropis, kira-kira ada 300 tanaman yang pembuahan tergantung kelelawar dan diperkirakan 95% regenerasi hutan oleh kelelawar jenis pemakan buah atau madu.

Penelitian lain juga menyebutkan, biji yang disebarkan kelelawar mempunyai tingkat perkecambahan lebih tinggi dibandingkan dengan perkecambahan alami atau langsung tanpa bantuan satwa.

Sedangkan kelelawar serangga banyak berperan sebagai agen dalam mengendalikan populasi serangga khusus hama seperti wereng.

Satwa penting dan habitat terancam

Kelelawar buah Sulawesi (Acerodon celebensis) adalah endemik Pulau Sulawesi. Berdasarkan IUCN, satwa ini tergolong vulnerable atau rentan dan masuk apendiks II CITES, namun tak dilindungi UU Indonesia.

Sheherazade, Manager Program Progres, lembaga nirlaba yang bekerja dalam isu ekologi di di Sulawesi mengatakan, perhatian konservasi masih sangat kurang.

Di Sulawesi, meski dinyatakan hotspot atau wilayah yang memiliki nilai keragaman tinggi, rupanya masih kurang. Padahal, secara geologi komposisi biodiversity sangat unik dan endemik. Salah satu, mengenalkan kelelawar sebagai bagian dari ekosistem yang harus dijaga (www.poniki.id ).

Sebelumya, 2017, Shera, sapaan akrab Sheherazade, melakukan penelitian mengenai kelelawar buah di Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Penelitian itu selama musim berbunga dan berbuah durian semi-liar antara Oktober Barat hingga November 2017 dan berlanjut hingga Januari 2018.

Shera dalam, Contributing of bats the local economy throught durian pollination in Sulawesi, Indonesia, terbitan Willey bioTropica pada September 2019, menuliskan, kalau satwa yang mendatangi bunga durian terdiri dari empat spesies vertebrata (tiga spesies kelelawar dan satu marsupial arboreal) dan dua spesies invertebrata (masing-masing spesies lebah dan ngengat).

Tiga spesies kelelawar (Eonycteris spelaea kecil dan Pteropus alecto yang lebih besar (kalong hitam) dan Acerodon celebensis (kalong Sulawesi), katanya, pengunjung utama bunga durian dalam perlakuan penyerbukan.

Desa ini membentang dari dataran rendah pesisir ke daerah pedalaman dan pegunungan yang didominasi hutan sekunder bercampur berbagai tanaman perkebunan. Di sebagian besar Sulawesi, durian tak tumbuh di perkebunan monokultur seperti tipikal di Asia Tenggara, tetapi tersebar di hutan sekunder dalam sistem wanatani campuran yang dikelola bersama dengan kakao (Theobroma cacao), rambutan (Nephelium lappaceum), langsat (Lansium parasiticum), dan mangga (Mangifera indica).

Di tempat berbeda, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, tempat saya bermukim, penggambaran Sheherazade, mengenai kelelawar di Sulawesi Barat, hampir sama. Saat musim bunga durian, langit jelang magrib akan menampilkan ribuan kelelawar melintas. Kelelawar-kelelawar itu bersarang di kawasan mangrove pesisir pantai.

Ketika menjelang pagi, bunga-bunga durian yang berwarna krem, akan berjatuhan di bawah lantai pohon. Selama proses itu, warga beranggapan kalau kelelawar akan merusak durian dan menggagalkan pembuahan. Setelah musim bunga berlalu, biji-biji kecil sebagai cikal buah akan bermunculan di dahan pohon. Saat itu kelelawar akan menghilang.

Menjelang 2010, ketika lahan pertambakan makin masif di pesisir, kawasan mangrove rumah kelelawar makin menyempit, dan kelelawar pun menghilang. Kini, buah durian di Kecamatan Suli pun ikut berkurang Poker Online Indonesia.

Shera menjelaskan, jika kelelawar dapat mengunjungi 38 dari 43 bunga majemuk. Dengan menggunakan kamera trap, dia dapat membedakan tiga jenis kekelewar yang mengunjungi bunga, Eonycteris spelaea lebih kecil dibanding yang lain dan memiliki bulu paling terang (keabu-abuan). Sedangkan Acerodon celebensis tampak lebih kecil dan lebih terang dari Pteropus alecto. “Ketiga spesies diamati minum nektar dari tabung bunga durian tanpa merusak bunga. Meskipun A. celebensis dan P. alecto memiliki tubuh relatif lebih besar dari bunga durian, tetapi mereka menggantung di cabang-cabang pohon dan menundukkan kepala ke arah bunga ketika minum sehingga tidak merusak bunga majemuk,” tulis Sheherazade.

Bagi Shera, dengan pendekatan bioekonomi, diperkirakan kalau penyerbukan kelelawar bernilai US$117 per hektar per musim buah. “Selain nilai ekonomi, poin pentingnya, upaya dalam mengenalkan konservasi kelelawar,” katanya.

Di Desa Batetangnga, musim berbuah durian sekali setahun dan berlangsung sekitar dua bulan, antara Oktober-November 2017. Kemudian musim berbuah dan panen dari Januari hingga awal April 2018. Selama periode ini, produksi durian di desa ini sekitar 1.497.600 buah. Penduduk desa menjual Rp5.000 per buah. “Kami memperkirakan, layanan penyerbukan kelelawar Rp6,3 miliar (US$ 450.000). Karena Desa Batetangnga mencakup sekitar 44,8 km2,” kata Sheherazade.

Bagi warga, kelelawar membawa manfaat. Dalam beberapa tuturan, kelelawar itu pertama kali dipelihara seorang warga, pada 1980-an. Ada tiga kelelawar lalu beranak pinak. Warga juga percaya, kalau kelelawar itu memangsa hama perusak tanaman.

Sampah Turun Selama Pandemi Corona

Sampah Turun Selama Pandemi Corona

KLHK Klaim Produksi Sampah Turun Selama Pandemi Corona

KLHK Klaim Produksi Sampah Turun Selama Pandemi Corona – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim penurunan produksi sampah per hari di beberapa daerah selama pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Rincian datanya, lanjut Rosa, yaitu Jakarta sebanyak 620 ton per hari dan Surabaya, Jawa Timur, 310 ton per hari. Begitu pula produksi sampah di Bukittinggi, Sumatera Barat, mengalami penurunan hingga 20 persen.

Hal ini menurutnya tetap akan meningkatkan produksi sampah sekali pakai, sehingga tidak menyelesaikan perkara tingginya timbulan sampah. Ia menilai seharusnya pemerintah mendesain ulang produk plastik sehingga dapat digunakan kembali ketimbang untuk daur ulang.

Ini karena upaya daur ulang di Indonesia pun belum maksimal mengingat belum ada sistem pemilahan sampah. Hingga kini rasio daur ulang dalam negeri, kata mysmumn.org, masih terhitung rendah yaitu 10 persen.

Kemudian perkara impor sampah plastik, lanjutnya, juga harus jadi perhatian. Ia mengingatkan impor sampah ke Indonesia menambah sampah plastik setidaknya 220 ribu ton.

Untuk itu ia berpendapat pemerintah harus menutup keran impor sampah plastik seperti yang dilakukan China sejak 2018. Terlebih karena sampah impor didominasi sampah yang tak bisa didaur ulang.

Sedangkan untuk kota yang bukan berciri komuter, produksi sampah menurun sekitar satu sampai tiga persen. “Kondisi ini terjadi karena sumber sampah komersial [dari] pusat perbelanjaan dan perkantoran menurun drastis,” tutur Rosa.

Meski demikian, ia mengingatkan produksi sampah dari sektor rumah tangga meningkat selama pandemi corona. Rosa melanjutkan, jumlah komposisi sampah plastik juga mengalami peningkatan.

Sampah plastik kebanyakan datang dari kemasan belanja daring serta pemakaian masker sekali pakai. Sampah masker sekali pakai, katanya, paling banyak ditemukan di sungai menuju Teluk Jakarta selama pandemi.

Juru Kampanye Urban Greenpeace Muharram Atha Rasyadi mengatakan upaya meminimalkan sampah plastik seharusnya dibarengi dengan regulasi untuk mengurangi produksinya.

Kampanye Urban Greenpeace Muharram Atha Rasyadi

“Reduksi [sampah plastik] ini perlu benar-benar diimplementasikan, mengingat regulasi yang mengatur belum memaksa produsen kebutuhan sehari-hari untuk mengubah kemasannya dengan menghindari plastik sekali pakai,” ujarnya melalui keterangan pers.

Muharram mengatakan upaya pemerintah untuk meminimalkan sampah plastik dengan mengganti materi alternatif plastik dengan bahan yang lebih mudah lebur bukan jawaban tepat.

Pada masa awal corona memuncak, Rosa mengakui sampah masker sekali pakai sempat jadi persoalan. Pasalnya, masker merupakan limbah infeksius sehingga berbahaya jika dibuang sembarangan.

Misalnya Balikpapan (Kalimantan Timur) sebanyak 26,07 ton per hari dan Bogor (Jawa Barat) sebanyak 10 sampai 15 ton per hari. Lalu di Bandung (Jawa Barat) produksi sampah menurun 0,7 persen.

Ia mengatakan untuk menanggulangi hal tersebut, KLHK mengeluarkan Surat Edaran No. 2 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Covid-19.

KLHK sendiri belum menyiapkan regulasi mengikat maupun edaran khusus terkait persiapan upaya menekan sampah plastik atau sekali pakai jika aktivitas sosial mulai diperbolehkan di tengah corona.

Namun, Poker Online Indonesia memastikan pihaknya tetap memfokuskan upaya mencapai target pengurangan dan penanganan sampah melalui kampanye dan koordinasi dengan pemerintah daerah.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Peraturan Menteri LHK No. P.75/MENLHK/SETJEN/Kum.1/10/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah Oleh Produsen.

Permen tersebut mengatur sejumlah upaya yang perlu dilakukan pelaku usaha di bidang manufaktur, jasa makanan dan minuman, serta ritel untuk menekan produksi sampah.

“Kota-kota dengan ciri komuter terjadi penurunan jumlah [produksi sampah] per hari sekitar 10 sampai 15 persen,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, dikutip Senin.